Jumat, 10 Februari 2012

Gadis Penjual Kue
“Selamat sore. Bu, mau beli kue?”
“Selamat sore. Masuklah dulu!”
“Disi saja Bu, kaki saya kotor. Nanti rumah Ibu jadi kotor juga.”
“Kok jadi sungkan-sungkan seperti ini. Ayo masuk.”
Memang setiap sore aku mendengar percakapan demikian. Aku heran kenapa ibu selalu bersikap baik kepda gadis penjual kue itu? Ibu selalu mengajak dia ke dapur, dan setelah di dapur ibu akan bertanya.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah Bu.”
“Tapi hari ini Ibu masak sushi. Maukah kau mencicipinya?”
Sikap Ibu pada penjual kue lain sangat berbeda, dengan sikap Ibu kepada Yuki. Jika Yuki berjualan ke rumah maka Ibu selalu membelinya. Dan menawarkannya kepadaku, waktu pertama kali aku di suruh untuk memilih kue, dengan gembira aku memilih kue yang dijajakan oleh Yuki. Aku memilih salah satu kue, namanya kue Dorayaki. Dorayaki termasuk ke dalam golongan kue tradisional Jepang (wagashi) yang bentuknya bundar sedikit tembam, terdiri dari dua lembar kue yang direkatkan dengan selai kacang merah. Tapi, jika setiap hari aku di suruh untuk memilih lama-kelamaan aku bosan juga.
Sampai suatu saat aku sangat bosan dan ibu kembali menyuruhku untuk kembali memilih kue yang dijajakan oleh Yuki. Namun, untuk menyenangkan hati ibu aku mengamil satu juga. Dan seperti biasanya ibu akan mengambil beberapa kue Mochi, Dorayaki, dan Taiyaki. Taiyaki merupakan kue Jepang yang berbentuk seperti ikan, dan terbuat dari adonan tepung terigu yang dipanggang, kemudian diisi selai kacang merah. Semua kue itu Ibu simpan di atas piring.
Aku sangat heran, karena kue-kue yang dibeli ibu tadi sama sekali tidak di sentuhnya. Yang leih mengherankan lagi Ayah yang termasuk orang yang pelit itu tidak berkomentar tentang pemborosan yang telah dilakukan oleh Ibu. Tetapi Ayah malah bertanya.
“Kenapa hari ini tidak membeli kue yuki?” jika Ayah tidak menemukan sepiring kue di meja makan.
“Tadi sore Yuki tidak mampir kesini. Mungkin kuenya sudah habis.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Aku sangat tidak mengerti kenapa Ayah berkata demikian. Hingga suatu sore, secara kebetulan aku lewat di depan rumah Yuki. Terdengar suara rebut di dalamnya.
“Kamu ini bagaimana sih? Jualan kue saja tidak bias. Sisa kue sebanyak ini mau kamu kemanakan? Rokudenashi (anak sialan dalam bahasa Indonesia). Aku bias bangkrut, tahu tidak? Malam ini kamu tidak leh makan. Ayo masuk gudang!"
Saat itu aku baru mengerti. Sesampainya di rumah aku menceritakan apa yang aku dengar kepada Ibu. Mata ibu terlihat berkaca-kaca lalu ibu masuk ke dapur, tidak lama kemudian Ibu keluar dengan membawa sebuah bungkusan.
“Nanti kalau sudah gelap Ken antarkan nasi ini kepada Yuki. Ia pasti dikurung Ibu tirinya di gudang belakang.”
Sudah seminggu Yuki tidak berjualan ke rumah. Ibu dan Ayah sangat khawatir pada keadaan Yuki. Besok harinya Ibu memutuskan untuk pergi ke rumah Yuki yang jaraknya tidak dekat dari rumahku. setelah Ibuku sampai di rumah Yuki maka kekhawatiran Ibu terjawab, Yuki sakit keras. Tetapi ibu tiri Yuki enggan untuk membawa Yuki ke Rumah Sakit dengan alasan ekonomi. Akirnya Ibuku lah yang membawa Yuki ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan ke Rumah Sakit sesuatu yang sangat buruk terjadi, nyawa Yuki sudah tidak tertolong lagi. Ibuku sangat terpukul sekali.
Setelah beberapa hari kemudian dating seorang anak seusia Yuki ke rumahku, ia membawa kue untuk dijual. Namun, Ibu tidak membeli kue yang dijual oleh adik tiri Yki. Egitu juga hari-hari berikutnya. Aku sangat penasaran.
“Kenapa Ibu tidak memeli kuenya lagi?”
“Tidak, kuenya tidak enak.”
“Tapi dulu Ibu sering membelinya.”
“Ibu membeli untuk menolong Yuki. Kalau kuenya tidak habis terjual maka ia akan dimarahi oleh ibu tirinya.”
“Tapi aku masih tidak mengerti kenapa Ibu sangat melindungi Yuki?”
“Yuki adalah seorang anak yatim piatu, Ayahnya meninggal ketika ia berumur satu tahun. Lalu ketika ia berumur 4 tahun Ibunya sakit keras dan akhirnya meninggal. Sebelum Ibunya meninggal dunia ibunya berpesan untuk menjaga Yuki, tetapi Yuki di adopsi oleh seorang pengusaha yang kaya raya, Yaitu keluarga Matsumoto. Namun, bukannya dianggap sebagai anak Yuki malah diperlakukan seperti budak dengan dijadikan pembantu oleh orang tua angkatnya itu. Hingga suatu saat Ayah angkatnya Yuki meninggal dunia, dan keluarga itu jatuh miskin. Lagi-lagi Yuki yang menjadi korban, seperti yang kamu ketahui Ken, dia harus berjualan kue.”
Mendengar cerita Ibu, akhirnya aku mengerti kenapa Ibu senantiasa melindungi Yuki. Namun, sekarang Yuki sudah meninggal dunia, semoga dia bahagia bersama Ayah dan Ibunya di alam sana.


Muthi Nur fathin
XII IPA 3